BREAKING NEWS

HSU Jajaki Rekomendasi Pakar Internasional untuk Pengelolaan Polder Alabio

  



Amuntai — Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, menjajaki penguatan pengelolaan Polder Alabio melalui rekomendasi para akademisi dan pakar internasional dalam rangkaian Konferensi Internasional INTAN-HANDIL 2026, Kamis (8/10/2026).

Kunjungan lapangan tersebut bertujuan menghubungkan hasil kajian akademik dengan kondisi nyata di kawasan Polder Alabio, sekaligus merumuskan masukan bagi pengembangan pertanian lahan basah yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Rombongan yang terdiri atas akademisi, peneliti, dan pakar dari Jepang, Belanda, Bangladesh, Universitas Lambung Mangkurat, serta sejumlah instansi terkait itu terlebih dahulu disambut di SMA Negeri 1 Sungai Pandan. Selanjutnya, rombongan menuju Desa Hambuku Pasar untuk meninjau kawasan Polder Alabio.

Kedatangan mereka disambut Bupati HSU H. Sahrujani bersama Wakil Bupati HSU Hero Setiawan, Sekretaris Daerah HSU Adi Lesmana, Ketua DPRD HSU, anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, jajaran kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD), serta Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III.

Bupati Sahrujani berharap konferensi internasional tersebut menghasilkan rekomendasi yang dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya dalam pengelolaan sumber daya air dan pengembangan sektor pertanian.

“Kami sangat bangga dan berterima kasih atas kehadiran para narasumber. Mudah-mudahan hasil seminar ini memberikan rekomendasi terbaik untuk Hulu Sungai Utara,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemerintah daerah akan menindaklanjuti rekomendasi yang dihasilkan dari konferensi sesuai dengan kebutuhan pembangunan daerah.

Pada kesempatan itu, Sahrujani juga menyampaikan rencana bantuan 55 unit sumur bor untuk masyarakat HSU. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi dampak kemarau panjang serta mendukung ketersediaan air bagi kegiatan pertanian.

“Karena HSU sedang mengalami kemarau panjang, insyaallah permohonan kita akan mendapatkan 55 unit sumur bor. Jika terealisasi, ini sangat besar manfaatnya, terutama bagi para petani,” katanya.

Ia mengapresiasi perhatian BWS Kalimantan III terhadap kebutuhan daerah, terutama dalam mendukung ketersediaan air di tengah kondisi kemarau. Meski demikian, realisasi bantuan tersebut masih perlu dipastikan lebih lanjut.

Selain sektor pertanian, Sahrujani menilai konferensi ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi ekonomi lokal HSU kepada kalangan internasional. Potensi tersebut mencakup kerajinan, peternakan, serta komoditas unggulan seperti itik Alabio.

“Konferensi ini tidak hanya soal pertanian. Kita juga ingin memperkenalkan potensi HSU, mulai dari kerajinan hingga itik Alabio, agar semakin dikenal dan berkembang,” ujarnya.

Setelah meninjau Polder Alabio, rombongan dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke Desa Banyu Hirang dan Desa Mamar untuk melihat potensi lokal di kedua wilayah tersebut.

Masukan dari para pakar diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan rekomendasi pengelolaan Polder Alabio serta pengembangan pertanian lahan basah yang produktif dan berkelanjutan.

Sahrujani turut menyampaikan apresiasi kepada Universitas Lambung Mangkurat, panitia, narasumber, dan seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan Konferensi Internasional INTAN-HANDIL 2026.

“Terima kasih telah berkunjung ke Hulu Sungai Utara. Inilah masyarakat HSU yang ramah dan terus berupaya bangkit dari semua sektor,” pungkasnya.

 


 


ADVERTISEMENT