BREAKING NEWS

Junardin Djamaluddin resmi meraih gelar Doktor Ilmu Lingkungan Unhas dengan IPK 4,00. Ia menawarkan blueprint Green-Blue Infrastructure untuk atasi banjir Makassar secara ekologis.

  

MAKASSAR — Bencana banjir yang kerap merendam Kota Makassar tiap musim hujan rupanya butuh 'obat' baru. Mengandalkan drainase beton alias grey infrastructure terbukti tak lagi mumpuni dan terkesan hanya tambal sulam sesaat.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, pakar lingkungan Ir. Junardin Djamaluddin, S.P., M.Si., IALI., IPM. hadir membawa gagasan segar. Tak tanggung-tanggung, ia menyodorkan cetak biru (blueprint) penanganan banjir Makassar berbasis Green-Blue Infrastructure (Infrastruktur Hijau-Biru).

Gagasan brilian ini pula yang mengantarkan Junardin meraih gelar Doktor Ilmu-Ilmu Lingkungan di Universitas Hasanuddin (Unhas). Hebatnya lagi, ia mencetak sejarah akademik dengan lulus berpredikat sangat memuaskan, yakni IPK Sempurna 4,00!

Pengukuhan tersebut berlangsung khidmat dan penuh apresiasi dalam Sidang Terbuka Ujian Akhir Disertasi di Ruang Smart Class Sekolah Pascasarjana Unhas, Makassar, Senin (24/8/2026).

Akar Masalah Banjir Makassar: Bukan Murni Karena Hujan!

Dalam disertasinya yang bertajuk "Pengembangan Lanskap Perkotaan Berbasis Mitigasi Bencana Banjir di Kota Makassar", Dr. Junardin membongkar fakta mengejutkan. Menurutnya, biang kerok banjir Makassar bukan sekadar intensitas hujan yang tinggi.

Masalah utamanya, kata dia, ada pada alih fungsi lahan besar-besaran. Beton dan aspal kini mengepung wajah kota, sehingga area resapan air tanah menyusut sangat drastis.

Kondisi ini memicu air hujan lari terlalu cepat (surface runoff) menuju selokan, kanal, hingga sungai. Walhasil, beban kerja saluran drainase menjerit karena dipaksa menampung debit air yang jauh di atas kapasitasnya.

"Selama ini penanganan banjir terlalu bertumpu pada infrastruktur abu-abu (beton) yang dibangun secara sektoral. Lanskap kota seharusnya diperlakukan sebagai infrastruktur ekologis," tegas Dr. Junardin.

"Air hujan itu tidak sekadar dibuang secepat mungkin, melainkan ditahan, diserap, disimpan, dan dialirkan secara lebih terkendali," imbuhnya.

Infrastruktur Hijau-Biru: Jangan Lawan Air, Tapi Berkawan

Sebagai solusi pamungkas, Junardin merumuskan Blueprint Perencanaan Lanskap Kota Makassar yang mengintegrasikan elemen alam dan buatan. Pendekatan ini tidak hanya menuntaskan krisis hidrologi, tapi juga memperhatikan sisi sosial-budaya warga lokal.

Melalui Green-Blue Infrastructure (GBI), badan air dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) tak cuma dijadikan 'tempat singgah' air luapan banjir. Ruang-ruang tersebut bakal disulap menjadi area publik yang estetik, kekinian, dan nyaman.

Konsep ini diyakini mampu memperbaiki kualitas hidup warga tanpa harus menggerus identitas Makassar sebagai kota pesisir yang menjunjung prinsip diversity within coherence (keberagaman dalam kesatuan).

Diuji oleh Sederet Pakar Top Nasional

Ujian disertasi yang melahirkan blueprint ini diuji langsung oleh dewan pakar lintas kampus. Sidang dipimpin oleh Wakil Dekan II Pascasarjana Unhas, Dr. Ir. Syahriadi Kadir, M.Si., bersama Promotor Prof. Dr. Ir. Hazairin Zubair, MS. dan Ko-Promotor Dr. Tigin Dariati, SP., M.ES.

Sementara di kursi penguji, hadir pakar eksternal dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Ar. Firmansyah, ST., MT., IALI., IAI. Dari jajaran internal Unhas, turut menguji Prof. Dr. Ir. Eymal Bashar Demmalino, M.Si. (Ketua Prodi S3 Ilmu Lingkungan), Prof. Dr. Samsu Arif, M.Si., dan Ir. Hari Iswoyo, SP., MA., Ph.D.

Hasil riset komprehensif dari Dr. Junardin ini digadang-gadang bakal menjadi referensi 'emas' bagi Pemkot Makassar maupun Pemprov Sulsel. Khususnya dalam meracik kebijakan Tata Ruang, proyek Pekerjaan Umum (PU), dan mitigasi lingkungan di masa depan.

"Sebagai kota pesisir, air akan selalu menjadi bagian dari kehidupan Makassar. Solusinya tidak selalu harus melawan air, tetapi bagaimana kota belajar memberi ruang yang adaptif dan bersahabat bagi air," pungkas Junardin memberi pesan mendalam.

 


 


ADVERTISEMENT